SATRIO

Balaghah

Maksud dan Tujuan Tasybih

1.      Menjelaskan kemungkinan terjadinya sesuatu hal pada musyabbah, yakni ketika sesuatu yang sangat aneh disandarkan kepada musyabbah, dan keanehan itu tidak lenyap sebelum dijelaskan keanehan serupa dalam kasus lain.

Contoh:

دَانٍ إِلَى أَيْدِي الْعُفَاةِ وَ شَاسِعٌ     عَنْ كُلِّ نِدٍّ فِي النَّدَى وَضَرِيْبِ

كَالْبَدْرِ أَفْرَطَ فِي الْعُلُوِّ وَضَوْؤًهُ    لِلْعُصْبَةِ السَّارِيْنَ جِدُّ قَرِيْبِ

“Ia dekat dengan orang-orang yang membutuhkannya, namun ia jauh dengan orang-orang yang setaraf dengannya dalam kebajikan da kemuliaannya. Bagaikan bulan yang sangat tinggi, namun cahayanya sangat dekat bagi orang-orang yang menempuh perjalanan di malam hari.”

2.      Menjelaskan keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah tidak dikenal sifatnya sebelum dijelaskan melalui tasybih yang menjelaskannya. Dengan demikian, tasybih itu memberikan pengertian yang sama dengan kata sifat.

Contoh:

 

كَأَنَّكَ شَمْسٌ وَ الْمُلُوْكَ كَوَاكِبٌ     إِذَا طَلَعَتْ لَمْ يَبْدُوْ مِنْهُنَّ كَوْكَبُ

“Seakan-akan engkau adalah matahari, sedangkan raja-raja lain adalah bintang-bintangnya. Bila matahari telah terbit, maka tiada satu bintang pun tampak.”

 

3.      Menjelaskan kadar keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah sudah diketahui keadaannya secara global, lalu tasybih didatangkan untuk menjelaskan rincian keadaan itu.

Contoh:

 

مَا قُبِلَتْ عَيْنَاهُ إِلَّا ظُنَّتَا     تَحْتَ الدُّجَى نَارَ الفَرِيْقِ حُلُوْلَا

“Kedua mata singa itu bila dalam kegelapan tidak ditangkap mata kita kecuali disangka sebagai api kelompok orang yang mendiami daerah itu.”

 

4.      Menegaskan keadaan musyabbah, yakni bila sesuatu yang disandarkan kepada musyabbah itu membutuhkan penegasan dan penjelasan dengan contoh.

Contoh:

وَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِه لَا يَسْتَجِبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كّفَّيْهِ إِلَى الْماءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَ مَا هُوَ بِبَالِغِه

 

“Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya air itu sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya (QS Ar-Ra’d:14).”

5.      Memperindah atau memperburuk musyabbah.

Contoh:

 

مَدَدْتَ يَدَيْكَ نَحْوَهُمُ احْتِفَاءً    كَمَدِّهِمَا إِلَيْهِمْ بِالْهِبَاتِ

“Uluran tanganmu kepada mereka dengan penuh penghormatan adalah seperti uluran tangan kepada mereka dengan beberapa pemberian.”

 

 

وَ تَفْتَحُ لَا كَانَتْ فَمًا لَوْ رَأيْتَهُ     تَوَهَّمْتَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ يُفْتَحُ

“Ia membuka mulutnya, sebaiknya ia tidak pernah lahir. Bila engkau melihat mulutnya itu, maka engkau akan menduganya sebagai satu pintu neraka yang terbuka.”

Daftar Pustaka

 

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin. 2010. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar baru Algensindo.

Basyuni, Abdul Fatah. 2015. Ilmu Bayaan Dirosatu Takhliiliyyah al-Masaail al-Bayan. Kairo: Muassasah Mukhtar.

Zaenuddin, Mamat dan Yayan Nurbayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: Refika Aditama.

 

 

Be the First to comment. Read More
Balaghah

Tasybih Dhimni

Tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hukum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.

 

Contoh:

لَا تُنْكِرِي عَطَلَ الْكَرِيْمِ مِنَ الْغِنَى      فَالسَّيْلُ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي

“Jangan kau ingkari bila orang yang dermawan tiada memiliki kekayaan, sebab banjir itu adalah musuh bagi tempat yang tinggi.”

 

مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الْهَوَانُ عَلَيْهِ      مَالِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيْلَامٌ

“Barang siapa yang merendah, maka akan mudah ia menanggung kehinaan. Luka bagi mayat tidak memberinya rasa sakit.”

 

Daftar Pustaka

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin. 2010. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar baru Algensindo.

 

Be the First to comment. Read More
Balaghah

Tasybih Tamtsil

Tasybih Tamtsil disebut sebagai tasybih tamtsil bilamana wajah syibehnya berupa gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal, dan disebut tasybih ghair tamtsil bila wajah sibehnya tidak terdiri dari rangkaian gambaran beberapa hal. Wajah syibehnya pada tasybih ghair tamtsil terdiri dari sau hal atau mufrad.

Contoh Tasybih tamtsil:

 

يَهُزُّ الْجَيْشُ حَوْلَكَ جَانِبَيْهِ      كَمَا نَفَضَتْ حَنَاحَيْهَا الْعُقَابُ

“Pasukan di sekelilingmu bergerak seirama di kanan kirimu, sebagaimana burung rajawali yang menggerakkan kedua sayapnya.”

 

Contoh Tasybih Ghair tamtsil:

وَلَيْيْلٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ أَرْخَى سُدُوْلَهُ     عَلَيَّ بِأَنْوَاعِ الْهُمُوْمِ لِيَبْتَلِي

 “Beberapa malam bagaikan ombak lautan, menutupkan kelambunya yang pekat kepadaku secara beruntun dengan berbagai macam kesusahan untuk mengujiku.”

 

Daftar Pustaka

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin. 2010. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar baru Algensindo.

Basyuni, Abdul Fatah. 2015. Ilmu Bayaan Dirosatu Takhliiliyyah al-Masaail al-Bayan. Kairo: Muassasah Mukhtar.

Zaenuddin, Mamat dan Yayan Nurbayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: Refika Aditama.

 

 

 

Be the First to comment. Read More
Balaghah

Ilmu Bayan

Balaghah

Secara bahasa, kata balaghah sama dengan washala atau balagha yang berarti sampai. Sedangkan sebagai suatu ilmu, balaghah adalah ilmu untuk mempelajari kefasihan berbicara yang meliputi ilmu maáni, bayan, dan badi.

Pengertian Ilmu Bayan

Secara bahasa, bayan artinya ‘terbuka’ atau ‘jelas’. Sedangkan dalam ilmu balaghah, ilmu bayan adalah ilmu yang mempelajari cara-cara mengemukakan suatu gagasan dengan berbagai macam redaksi. Adapun menurut Imam Akdhari ilmu bayan ialah ilmu yang mempelajari tata cara pengungkapan suatu makna dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda-beda penjelasannya (Zaenuddin dan Nurbayan, 2007:15).

البيان في اصطلاح فهو : العلم الذي يعرف به ايراد المعنى الواحد بطرق مختلفة في وضوح الدلالة عليه.

“Ilmu yang diketahui dengannya maksud suatu makna dengan jalan yang berbeda-beda dalam penjelasannya (Basyuni, 2015:11).”

Bidang Kajian Ilmu Bayan

Bidang Kajian Ilmu Bayan adalah tasybih, majaz, dan kinayah. Adapun tasybih membahas penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain, majaz merupakan kelanjutan dari tasybih, yaitu adanya aspek kesamaan antara dua hal, tetapi pada majaz salah satu dari dua unsurnya dibuang, kemudian kinayah membahas suatu kalimat yang diungkapkan dengan maksud makna kelazimannya, tetapi tetap dibolehkan mengambil makna hakikinya. Dan juga, Ilmu ini dapat membantu kita untuk mengungkapkan suatu ide atau perasaan melalui bentuk kalimat dan uslub yang bervariasi sesuai dengan muqtadhal hal.

Peletak Dasar Ilmu Bayan

Ilmu bayan pertama kali dikembangkan oleh Abu Ubaidah ibn al-Matsani (211 H). Sebagai dasar pengembangan ilmu ini, ia menulis sebuah kitab dengan judul Majaz Al-Qurán. Kemudian setelahnya muncul tokoh terkemuka dalam ilmu ini, yaitu: Abd al-Qahir al-Jurzani. Ilmu ini terus berkembang dan disempurnakan oleh para ulama berikutnya, seperti: al-Jahizh ibn Mu’taz, Quddamah, dan Abu Hilal al-Askari (Zaenuddin dan Nurbayan, 2007:16).

Tasybih (التشبيه)

Tasbih merupakan salah satu bidang kajian dalam ilmu bayan. Adapun tasybih menurut bahasa bermakna tamtsil yang artinya ‘perumpamaan’ atau ‘penyerupaan’. Tasybih juga merupakan penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal lain. Adapun tasybin menurut ahli ilmu bayan adalah suatu istilah yang di dalamnya terdapat pengertian penyerupaan atau perserikatan antara dua perkara (musyabbah dan musyabbah bih), perserikatan tersebut terjadi pada suatu makna (wajhu syibah) dan dengan menggunakan sebuah alat (adat tasybih) (Zaenuddin dan Nurbayan, 2007:21).

Rukun Tasybih (أركان التشبيه)

  1. Musyabbah (المشبه) , yaitu sesuatu yang hendak diserupakan.
  2. Musyabbah bih (المشبه به) , yaitu sesuatu yang diserupai. Kedua unsur ini dinamakan thorfay tashbih (طرفي التشبيه) (kedua pihak yang diserupakan).
  3. Wajhu syibbah (وجه الشبه) , yaitu sifat yang terdapat pada kedua pihak itu.
  4. Adat tasybih(أداة التشبيه) , yaitu huruf atau kata yang digunakan untuk menyatakan penyerupaan.

رُبَّ لَيْلٍ كَأَنَّهُ الصُّبْهُ فِي الْحُسْنِ وَ إِنْ كَانَ أَسْوَدَ الطَّيْلَسَانِ

“Sering kali malam itu indah bagaikan pagi meskipun sehitam toga.”

أَنْتَ كَالْبَحْرِ فِي السَّمَاحَةِ وَ الشَّمْسِ عُلُوًّا وَ الْبَدْرِ فِي الْإشْرَاقِ

“Kelapanganmu bagaikan lautan, ketinggianmu bagaikan matahari, dan cahaya roman mukamu bagaikan bulan.”

الْعُمْرُ مِثْلُ الضَّيْفِ أَوْ كَالطَّيْفِ لَيْسَ لَهُ إِقَامَه

“Umur itu bagaikan tamu atau mimpi, tidak memiliki kepastian.”

No. Musyabbhah Musyabbah bih Adat tasybih Wajhu syibhah
1 Malam itu Pagi Ka anna Keindahan
2 Kamu Lautan, matahari, bulan. Ka Kelapangan, ketinggian, cahaya.
3 Umur Tamu atau mimpi Mitslu, ka Tidak memiliki kepastian

Jenis-jenis Tasybih

  1. Dilihat dari segi ada atau tidak adanya adat tashbih.

Tashbih mursal adalah tasybih yang disebut adat tasybihnya.

 Contoh:

أَنَا كَالْمَاءِ إِنْ رَضِيْتُ صَفَاءً وَ اِذَا مَا سَخِطْتُ كُنْتُ لَهِيْبًا

“Bila aku rela, maka aku setenang air yang jernih; dan bila aku marah, maka aku sepanas api menyala.”

Tasybih Mu’akkad adalah tasybih yang dibuang adat tasybihnya.

Contoh:

الْجَوَادُ فِي السُّرْعَةِ بَرْقٌ خَاطِفٌ

“Kecepatan kuda balap itu bagaikan kilat yang menyambar.”

أَنْتَ نَجْمٌ فِي رِفْعَةٍ وَضِيَاءٍ تَجْتَلِيْكَ الْعُيُوْنُ شَرْقًا وَ غَرْبًا

“Kedudukanmu yang tinggi dan kemasyuranmu bagaikan bintang yang tinggi lagi bercahaya. Semua mata, baik di belahan timur maupun barat, menatap ke arahmu.”

  1. Dilihat dari ada atau tidak adanya wajhu sibh.

Tasybih Mufashshal adalah tasybih yang disebut wajhu sibhnya.

Contoh:

سِرْنَا فِي لَيْلٍ بَهِيْمٍ كَأَنَّهُ الْبَحْرُ ظَلَامًا وَ إِرْهَابًا

“Aku berjalan pada suatu malam yang gelap dan menakutkan, bagaikan berjalan di tengah laut.”

Tasybih mujmal adalah tasybih yang dibuang wajhu sibhnya.

Contoh:

فَكَأَنَّ لَذَّةَ صَوْتِهِ وَ دَبِيْبَهَا سِنَّةٌ تَمَشَّى فِي مَفَاصِلِ نُعَّسِ

“Maka kemerduan suaranya yang mengalun itu sungguh bagaikan kantuk yang merayap ke seluruh persendian orang yang mengantuk.”

وَ كَأَنَّ الشَّمْسَ الْمُنِيْرَةَ دِيْنَارٌ رَجَلَتْهُ حَدَائِدُ الضَّرَّابِ

“Matahari yang bersinar itu sungguh bagaikan dinar yang tampak kuning cemerlang berkat tempaan besi cetakannya.”

  1. Tasybih Baligh

Tasybih baligh adalah tasybih yang dibuang adat tasybihnya dan wajhu sibhnya.

أَيْنَ أَزْمَعْتَ أَيُّهَاذَا الْهُمَامُ؟ نَحْنُ نَبْتُ الرُّبَا وَ اَنْتَ الْغَمَامُ

“Ke manakah Tuan hendak menuju, wahai raja yang pemurah? Kami adalah tumbuh-tumbuhan pegunungan dan Tuan adalah mendung.”

النَّشْرُ مِسْكُ وَ الْوُجُوْهُ دَنَانِيْرٌ وَ اَطْرَافُ الْأَكُفِّ عَنَمٌ

“Baunya yang semerbak itu bak minyak kesturi, wajah-wajahnya yang berkilauan bak dinar, dan ujung-ujung telapak tangannya merah bak pacar.”

Daftar Pustaka

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin. 2010. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar baru Algensindo.

Basyuni, Abdul Fatah. 2015. Ilmu Bayaan Dirosatu Takhliiliyyah al-Masaail al-Bayan. Kairo: Muassasah Mukhtar.

Zaenuddin, Mamat dan Yayan Nurbayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: Refika Aditama.

 

Be the First to comment. Read More
Arudh

Penulisan dalam Ilmu Arudh

Kalam dalam syair Arab tersusun dari huruf yang berharokat dan bersukun. Huruf yang berharokat yang ditandai dengan fathah, dhommah dan kasroh dan huruf yang bersukun ditandai dengan mad (alif, wawu, dan ya) atau dengan syakal sukun. Dalam hal ini, huruf yang berharokat ditandai dengan (ا) dan huruf yang bersukun ditandai dengan (o). Adapun kalam syair Arab harus didahului oleh huruf yang berharokat dan diakhiri oleh huruf yang bersukun.  Pemotongan kata dalam syair Arab yang terdiri dari huruf yang berharokat dan huruf yang bersukun yang terletak setelahnya dinamakan sabab khofif  السبب الخفيف .

gambar-1

Apabila harokat yang bersukun dalam sabab khofif dihapus dan yang tetap hanya huruf yang berharokatnya saja  maka kalam  dalam syair Arab tersebut tersebut tidak dapat diterima. Contohnya seperti tabel di bawah berikut.

gambar-2

Apabila huruf yang berharokat dalam sabab khofif diganti dengan huruf yang bersukun sehingga tandanya menjadi ( I I ), maka susunan tersebut dinamakan sabab tsaqil السبب الثقيل, seperti contoh di bawah berikut.

gambar-4

Dalam susunan kata, adakalanya terdiri dari dua sabab khofif seperti tanda berikut (oIoI = oI + oI). Jika tanda sukun pada sabab khofif yang pertama dihapus sehingga tandanya menjadi (oII), maka dinamakan watad majmu’ الوتد المجموع. Adapun apabila tanda sukun pada sabab khofif yang kedua dihapus sehingga tandanya menjadi (IoI), maka dinamakan watad mafruq الوتد المفروق, tetapi susunan watad mafruq tidak diterima dalam syair Arab apabila terletak pada akhir kalam. Contoh penjelasan di atas sebagaimana tabel di bawah berikut.

gambar-3

Referensi:

Mustajir, Ahmad. 1987. Madkhol riyaadhi ila ‘arudh asy-syi’ri al-‘arabiy. Kairo: Universitas Kairo.

Be the First to comment. Read More
Sejarah

Pasar dan Perempuan di Minangkabau

Oleh

Selfi Mahat Putri, M.A. 

Slogan “Carrefour, untuk hidup yang lebih baik atau Super Indo, lebih segar lebih hemat lebih dekat” sudah tak asing lagi bagi kaum ibu rumah tangga terutama yang berada di perkotaan karena merupakan pusat perbelanjaan yang cukup ternama. Hampir tiap pekan atau bahkan tiap hari, kita bisa melihat-ibu-ibu berbelanja untuk kebutuhan sehari-sehari maupun bulanan. Mulai dari sayur-sayuran, lauk pauk, beras bahkan pakaian atau barang elektronik tersedia.

 Barang-barang yang sudah ditata dengan rapi terletak pada tempat-tempatnya, bagian sayur-sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu, peralatan masak dan lain sebagainya berada pada tempat yang sudah tersedia dengan label harga yang sudah tertera pada tiap-tiap barang. Dibantu  dengan keranjang atau troly dorong yang tersedia maka kita bisa mengambil barang yang ingin dibeli dan terakhir ke kasir untuk menghitung semua barang belanjaan dan tinggal bayar.

Inilah sebuah bentuk modernisasi dari sebuah pasar, dimana menjawab keinginan masyarakat yang menginginkan sebuah pasar yang bersih,nyaman,teratur dan aman. Kita bisa lihat sendiri saat ini, mulai berjamurnya supermarket-supermarket baik yang skala kecil maupun besar, dan tak hanya di kota-kota besar tetapi mulai merambah ke daerah-daerah. Hingga akhirnya, pasar tradisional yang masih bertahan sampai saat ini mulai tertatih-tatih untuk menjaga eksistensinya agar tidak tenggelam ditelan zaman.

Kita perlu mengintip ke belakang, melihat  kondisi pasar dan perempuan (ibu rumah tangga) yang selalu bergantung dengan pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagaimana sejarahnya di daerah minangkabau yang notabane-nya dikenal sebagai masyarakat pedagang.

Pasar dan Urang Minang

Berbicara mengenai pasar dan urang Minang bagaikan “ burung jalak di punggung kerbau” yang merupakan sebuah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Bagaimana pasar menjadi bagian dari jiwa urang minang yaitu berdagang sehingga keberadaan urang Minang ini turut andil meramaikan pusat perekonomian di pasar-pasar yang berada hampir di seluruh kepulauan di nusantara.

Pasar erat kaitannya dengan perkembangan sebuah daerah yang semula berupa daerah kecil menjadi sebuah daerah yang berkembang pesat atau dari sebuah desa berkembang menjadi sebuah kota. Saat kita membicarakan atau membahas mengenai perkembangan ini, kita tidak dapat melepaskannya dari peranan pasar tradisional, baik itu yang pada awalnya hanya dibentuk oleh masyarakat pribumi sekitar sebelum masuknya bangsa Belanda hingga peran bangsa Belanda sendiri dalam mengembangkan pasar dengan memanfaatkan hasil bumi yang ada di daerah jajahannya.

Sumatera Barat atau pada masa pemerintahan Hindia Belanda terkenal dengan sebutan Sumatera Westkust (biasa juga disebut dengan Minangkabau), merupakan salah satu daerah yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk menancapkan kuku pemerintahan kolonialnya khususnya dalam bidang perdagangan hasil bumi. Daerah ini terkenal dengan hasil-hasil pertanian komoditi ekspornya, seperti kopi, tembakau, cengkeh, lada, gambir dan lain sebagainya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan perkembangan pada pasar atau yang disebut juga pakan di Minangkabau menjadi besar, bahkan hingga menjadi sebuah kota pada masa pemerintahan Belanda. Oleh karena itu, bagaimana membaca foto-foto mengenai perkembangan sebuah pasar di Minangkabau pada masa kolonial.

Pasar di Ranah Minang

Pasar dikenal juga oleh orang Minangkabau dengan sebutan pakan, pada umumnya setiap nagari memiliki pakan sendiri karena pakan merupakan salah satu syarat berdirinya suatu nagari. Pakan biasanya didirikan di lapangan dekat balairung  nagari. Nama suatu pakan dapat mengacu pada nama hari atau nagari dan waktu atau tempat penyelenggaraan pakan itu. Misalnya Pakan Kamih (pasar kamis), Pakan Sinayan (pasar senin), dan juga Pakan Kurai (pasar kurai), Pakan Baso (pasar baso). Pakan hanya satu kali dalam seminggu, hal ini dilakukan agar pasar bisa dilakukan bergiliran dengan daerah-daerah lain.

Pada tahun-tahun ini pasar sudah diatur menurut kategori barang-barang yang dijual : disatu bagian, bahan pokok seperti ikan kering, beras, buah, sayur, garam dll. Bahan pangan di tempat lain : kain, baik katun maupun sutera, bagian lain lagi : makanan seperti jajanan dari beras ketan, gula enau, keperluan makan sirih  seperti daun sirih, tembakau, pinang, kue yang terbuat dari gambir dan kapur, berikat-ikat daun pohon kopi untuk direbus sebagai minuman kopi di Minangkabau, dibagian lain lagi ada barang-barang keperluan rumah tangga seperti kuali, tikar rotan, kotak-kotak, damar untuk penerangan dll, ditempat lain lagi ada barang-barang kerajinan besi seperti cangkul, sekop, sodok dan senapan, debu emas juga di jual  dan dipasar yang besar juga ada penjualan ternak.

picture1

Foto yang berukuran 14 x 23,5 cm ini adalah sebuah foto aktivitas di pasar Payakumbuh pada tahun 1911 yang merupakan koleksi dari A.N.W.B . Toeristenbond voor Nederland yang diambil dari www. kitlv.nl.  Pasar yang diadakan di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh pohon-pohon beringin ini memiliki bangunan fisik pasar yang masih sangat sederhana yakni berupa warung-warung yang tonggaknya terbuat dari bambu atau kayu dan beratap daun rumbia atau daun ilalang. Sedangkan sebagian pedagang lainnya yang tak memiliki warung mereka menggelar dagangannya di atas tanah dengan beralaskan katidiang (bakul), daun pisang dan bahkan tak beralaskan sama sekali. Beberapa pedagang sudah menggunakan karung-karung goni untuk membawa barang dagangannya dan sebagian yang lain masih menggunakan katidiang (bakul) yang berisi hasil bumi dari daerah Payakumbuh dan daerah sekitarnya.

Terlihat jelas, bagaimana ramainya pasar di Payakumbuh pada tahun ini, tua-muda, laki-laki dan perempuan bahkan anak-anak ada disini. Para perempuan dengan pakaian khas baju kuruang dengan penutup kepala atau disebut juga tingkuluak dan beberapa kaum laki-laki dengan sarung dan kopiahnya. Inilah pakaian khas orang minang yang sekarang sudah jarang digunakan. Beberapa kompeni dengan pakaian putihnya terlihat sedang melakukan kontrol atau pengawasan.

Pasar tidak hanya menjadi tempat mendapatkan keuntungan dari jual beli saja, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan bertemunya suatu masyarakat dalam sebuah nagari. Pedagang-pedagang ini tidak hanya berasal dari nagari yang sedang mengadakan hari pakan nya saja tetapi mereka juga datang dari berbagai nagari-nagari yang berada di Minangkabau.

picture2

Dari sumber yang sama, foto yang berukuran 18 x 28 cm ini memperlihatkan sisi dari salah satu kondisi pasar yaitu warung atau lapau dengan atap rumbia dan kain putih di tiap-tiap sisinya sebagai penutup. Lapau ini biasanya ditinggalkan oleh pedagang selama seminggu sampai datang lagi hari pakannya. Lapau yang sangat sederhana ini merupakan tempat berkumpul, dalam bahasa gaulnya tempat “nongkrong” laki-laki minang, mulai dari remaja sampai orang tua. Tempat yang biasanya menjadi tempat ngopi sambil menyantap makanan kecil ini menjadi  wadah berbagi cerita bagi masyarakat minang. Disinilah tempat berbagi informasi dari berbagai orang,  mengenai apa saja, semuanya diperbincangkan.

 Perempuan di Pakan

picture3

Tak berbeda jauh dari foto diatas (pertama), foto yang diambil dari sumber buku “Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang” yang di dapat dari arsip di Belanda juga tampak pedagang perempuan dengan pakaian baju kuruang dan tingkuluak serta katidiak sebagai tempat  barang dagangannya yang ditutupi oleh kain.

Biasanya perempuan yang berdagang di pakan ini menjual hasil kerajinan tangan yang mereka buat sendiri dirumah. Usaha rumah tangga ini  dilakukan dalam jumlah kecil,  dengan modal kecil sehingga keuntungan yang di dapatpun juga kecil. Seperti tenunan, kain katun lokal, sarung biru dan merah dengan kotak-kotak seperti kain bugis. Selain itu, Perempuan-perempuan ini juga membawa beras dalam kantung-kantung kecil, buah-buahan, daun kopi, dan jajanan yang mereka buat sendiri.

Inilah fenomena sejarah yang bisa kita lihat mengenai perempuan di Minangkabau dalam bidang ekonomi pada tahun 1911. Mereka tak hanya sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya memasak di dapur saja, tetapi ikut andil terlibat dalam pemenuhan kebutuhan itu. Mereka datang ke pasar menjual barang-barang apa saja yang bisa di jual, pasar begitu penting bagi mereka.

Sumber :

  1. kiltv.nl “De Pasar te Pajo Koemboeh. Sumatra”.
  2. kitlv.nl “Een warong op de Pasar te Pajo Koemboeh. Sumatra”.
  3. Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang, (Jakarta : Sinar Harapan, 1985), hlm 142.

 

Be the First to comment. Read More
Pragmatik

TINDAK TUTUR DIREKTIF BAHASA ARAB DALAM FILM ‘UMAR

ABSTRAK

Penelitian ini adalah penelitian tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar dan mendeskripsikan fungsi tindak tutur direktifnya.

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak dan mencatat tuturan-tuturan direktif yang terdapat dalam film ‘Umar. Pada tahap analisis data digunakan pendekatan pragmatik dengan metode kontekstual. Kemudian penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode informal.

Hasil penelitian menunjukkan jenis tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar berjenis tindak tutur langsung dengan bentuk kalimat imperatif, tindak tutur tidak langsung dengan bentuk kalimat deklaratif dan kalimat interogatif, tindak tutur literal, dan tindak tutur tidak literal. Adapun fungsi tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar yaitu: memerintah, melarang, meminta, menasihati, mengajak, mengharapkan, memperingatkan, menantang, dan mempersilakan.

Kata Kunci: Tindak Tutur Direktif, Pragmatik, Bahasa Arab

 

 

PENDAHULUAN

Salah satu tindak tutur dalam studi pragmatik adalah tindak tutur direktif, yaitu tindak tutur yang diungkapkan oleh penuturnya agar lawan tutur melakukan sesuatu (Wijana, 2010). Tindak tutur ini memiliki berbagai keragaman pemakaian. Keberagaman pemakaian tindak tutur direktif tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor linguistik maupun nonlinguistik. Hal tersebut dikarenakan pola pemakaian bentuk direktif sendiri sudah beragam, yaitu berupa perintah, pernyataan, atau pertanyaan. Selain itu, tindak tutur direktif juga memiliki fungsi pemakaian yang beragam, yaitu memerintah, melarang, memohon, memberi saran, dan lain-lain.

Dalam hal ini, studi pragmatik penting dilakukan terhadap bahasa Arab.  Bahasa Arab merupakan bahasa yang telah banyak digunakan masyarakat Indonesia dan dipelajari dari tingkat menengah sampai perguruan tinggi. Oleh karenanya, dalam penelitian ini akan dikaji tindak tutur direktif bahasa Arab yang datanya diambil dari film ‘Umar, yaitu film berbahasa Arab yang menceritakan tentang Umar bin Khattab yang merupakan khalifah Islam kedua.

Film ‘Umar telah ditayangkan di Indonesia pada tahun 2012 di MNCTV. Film yang berupa serial sebanyak tiga puluh episode ini, menceritakan tentang Umar bin Khattab, tokoh penting dalam sejarah umat Islam yang kisah kehidupannya dapat dijadikan teladan. Film ini menginspirasi dan telah banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, bahasa Arab yang digunakan dalam film ini adalah bahasa Arab resmi atau fuṣḥah yang telah dijadikan bahasa standar di berbagai Negara Arab dan dalam film ini juga banyak terdapat tindak tutur direktif sehingga cocok dijadikan sebagai data penelitian untuk mendapatkan gambaran mengenai tindak tutur direktif bahasa Arab.

Adapun pengambilan data yang diambil dari sebuah film berbahasa Arab sendiri dilatarbelakangi oleh penulis yang tidak tinggal di kawasan yang menggunakan bahasa Arab sehingga tidak dimungkinkan untuk meneliti tuturan direktif langsung dari penutur aslinya. Selain itu, data yang berupa tindak tutur direktif yang diamati dalam film ‘Umar tersebut merupakan sebuah peristiwa tutur yang nyata dengan penggunaan bahasa yang sesuai dengan bahasa masyarakat Arab sehari-hari walaupun tuturan-tuturan dalam film tersebut hasil merupakan skenario sutradaranya. Berkaitan dengan tindak tutur direktif Bahasa Arab dalam film ‘Umar tersebut, terdapat beberapa tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu:

  1. Mendeskripsikan jenis-jenis tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar.
  2. Mendeskripsikan fungsi tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar.

KAJIAN TEORI

Terdapat beberapa definisi yang diutarakan oleh para ahli mengenai istilah pragmatik. Levinson (1983)  menyatakan bahwa pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi pemahaman bahasa.  Menurut Yule (2006), pragmatik merupakan studi yang mempelajari tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar. Sebagai akibatnya studi pragmatik lebih berhubungan mengenai maksud dari tuturan-tuturan yang disampaikan oleh seseorang daripada makna leksikal kata atau frase dari tuturan-tuturan tersebut.

Adapun salah satu pembahasan dalam studi pragmatik adalah tindak tutur. Dalam teori tindak tutur, Searle (dalam Wijana, 1996) menyatakan bahwa secara pragmatik setidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur dalam berbahasa, yaitu tindakan untuk mengatakan (locutionary act), tindakan untuk melakukan sesuatu (illocutionary act), dan tindakan yang mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone.

Berdasarkan teori tindak tutur, tindakan ilokusioner merupakan sentral kajian tindak tutur. Searle (1979) mengelompokkan jenis tindak tutur ilokusioner ke dalam lima jenis tindak tutur, yaitu: refresentatif/asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Tindak tutur refresentatif adalah tindak tutur yang menyatakan keyakinan penutur benar atau tidak, seperti pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Kemudian tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan agar lawan tutur melakukan sesuatu yang dituturkan oleh penutur. Adapun tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Lalu tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang menghasilkan perubahan dalam waktu yang singkat hanya melalui tuturan.

Sehubungan dengan hal ini, tindak tutur yang dikaji dalam penelitian ini hanya tindak tutur direktif. Dalam hal ini, tindak tutur direktif memiliki maksud dan fungsi yang bermacam-macam. Pembagian tindak tutur direktif berdasarkan maksud dan fungsi pada penelitian ini, berlandaskan pada pembagian tindak tutur direktif menurut Searle (1979), Levinson (1983), Yule (2006), Wijana (2010), Rahardi (2005). Adapun yang termasuk ke dalam tuturan direktif adalah  memerintah (commanding), memesan (ordering), meminta (requesting), menasihati (advising), berdoa (praying), mengundang (inviting), mengizinkan (permit), membela (pleading), memohon (begging), merekomendasi (recommending),

Selain itu, Wijana (1996) menyatakan bahwa tindak tutur dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung, dan literal maupun tidak literal. Tindak tutur langsung ditandai dengan modus kalimat yang sesuai, misalnya kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu, kalimat deklaratif berfungsi untuk memberitahukan, dan kalimat imperatif berfungsi untuk menyuruh atau melarang. Sedangkan tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, misalnya kalimat tanya digunakan untuk menyuruh, kalimat deklaratif digunakan untuk menawarkan, dan sebagainya. Adapun tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis, dan tahap penyajian hasil analisis. Pada tahap penyediaan data, film ‘Umar sebagai sumber data didapatkan dengan cara mengunduhnya di situs www.youtube.com. Setelah itu, tuturan-tuturan yang terdapat dalam film tersebut disimak. Kemudian pengumpulan data yang berupa tuturan yang mengandung tindak tutur direktif dilakukan dengan memperhatikan tuturan-tuturan yang terdapat pada film ‘Umar berdasarkan konteks pada saat tuturan tersebut dituturkan. Setelah itu, tuturan-tuturan tersebut dicatat dan diklasifikasikan kemudian diketik dengan memakai program microsoft word.

Tahap berikutnya adalah tahap analisis data. Dalam analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual, yakni cara-cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan, memperhitungkan, dan mengaitkan identitas konteks-konteks yang ada (Rahardi, 2005). Dalam hal ini, penafsiran tuturan selalu diawali dengan penyajian konteks. Konteks tuturan pada film ‘Umar tersebut adalah semua aspek di luar bahasa yang melatar belakangi tindak tutur direktif yang dituturkan pada film ‘Umar tersebut. Adapun penyajian analisis data menggunakan metode informal (Sudaryanto, 1993). Dengan metode ini, hasil penelitian dipaparkan secara deskriptif dengan kata-kata biasa tanpa lambang-lambang.

PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, tindak tutur direktif dalam film ‘Umar memiliki berbagai jenis dan fungsi. Berikut uraian mengenai jenis-dan fungsi-fungsi dari tindak tutur direktif tersebut.

  1. Jenis-jenis Tindak Tutur Bahasa Arab dalam Film ‘Umar

Berdasarkan data-data yang diperoleh, jenis-jenis tindak tutur Bahasa Arab dalam film ‘Umar dapat digolongkan kepada empat jenis, yakni tindak tutur direktif langsung, tindak tutur direktif tidak langsung, tindak tutur direktif literal, dan tindak tutur direktif tidak literal. Adapun data-data mengenai pembagian jenis tindak tutur direktif Bahasa Arab dalam film ‘Umar dapat dilihat pada tabel di bawah berikut.

No Jenis Tindak Tutur Tindak Tutur Direktif Bahasa Arab dalam Film ‘Umar
(1) Tindak Tutur Direktif Langsung اِرْجِعْ اَنْتَ يَا عَبْدَ الله!

Irji’           anta        yā      ‘abdallāh!

Kau pulanglah, Abdullah!

(Episode 28/14:21/Umar bin Khattab)

Konteks:tuturan Umar bin Khattab kepada Anaknya, Abdullah agar pulang ke Madinah. Ketika itu Umar bin Khattab dan Abdullah berada di perbatasan Kota Madinah sedang menunggu berita dari utusan pasukan muslim dari Persia.

(2) Tindak Tutur Direktif Tidak Langsung السَّلامُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ هذا الْخِبَاء أدْخُلْ؟

Assalāmu ‘alaikum ahla           hāżā  l-khibā   ādkhul?

Assalamu’alaikum, wahai penghuni tenda, bolehkah saya masuk?

)Episode 24/05:26/Khalid bin Walid(

Konteks:tuturan Khalid bin Walid ketika akan menemui Abu Sufyan di dalam tendanya setelah pasukan muslim memperoleh kemenangan pada Perang Yarmuk melawan pasukan Romawi.

(3) Tindak Tutur Literal عُمَر صَلِّي بِالنَّاسِ!

 

‘umar ṣallī          binnās!

Umar, pimpinlah Shalat!

)Episode 17/27:03/Bilal(

Konteks: tuturan bilal kepada Umar bin Khattab. Pada saat itu Nabi Muhammad sedang dalam ke adaan sakit sehingga tidak ada yang mengimami shalat.

(4) Tindak Tutur Tidak Literal مَنْ أذِنَ لَكِ؟

Man  ażina              laki?

Siapa yang mengizinkanmu?

(Episode 13/20:12/Wahsyi)

Konteks: tuturan Wahsyi kepada Raihanah. Ketika itu Raihanah datang ke tempat Wahsyi dan ketika Raihanah melihat perhiasan milik Wahsyi pada sebuah wadah kemudian ia memakainya. Dalam hal ini, Wahsyi marah melihat perhiasan miliknya dipakai oleh Raihanah.

Bentuk kalimat pada tuturan (1) adalah kalimat imperatif. Hal ini ditandai dengan penggunaan verba perintah (fi’il amr) اِرْجِعْ “Irji’” ‘pulanglah’ sebagai predikatnya dan subjek kalimatnya adalah اَنْتَ “anta”. Kalimat imperatif pada tuturan (1) digunakan sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk memerintah sehingga tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak tutur langsung. Adapun bentuk kalimat pada tuturan (2) merupakan kalimat interogatif. Hal ini ditandai dengan adanya kata tanya أ “a” ‘apakah’ sebelum verba أدْخُلْ “adkhul” aku masuk’. Pada umumnya kalimat interogatif digunakan untuk menanyakan suatu informasi kepada lawan tutur. Adapun kalimat interogatif pada tuturan (2) tersebut tidak sekadar digunakan untuk menanyakan suatu informasi kepada lawan tutur, tetapi kalimat interogatif tersebut digunakan untuk menyatakan permintaan kepada lawan tutur. Dalam hal ini, Khalid bin Walid dengan menuturkan tuturan pada tuturan (2) tersebut hendak bermaksud meminta kepada Abu Sufyan agar diizinkan memasuki kemahnya. Dengan demikian, tuturan pada tuturan (2) tersebut termasuk ke dalam tindak tutur tidak langsung. Hal ini dapat dilihat dari kalimat interogatif pada tuturan (2) tersebut, tidak hanya menanyakan suatu informasi kepada lawan tutur, tetapi juga menyatakan maksud permintaan kepada lawan tuturnya.

Tuturan (3) di atas merupakan tuturan Bilal kepada Umar bin Khattab. Tuturan bilal tersebut dituturkan kepada Umar bin Khattab dengan maksud meminta Umar untuk menjadi imam shalat karena Nabi Muhammad sedang sakit. Adapun bentuk kalimat yang digunakan adalah kalimat imperatif. Hal ini ditandai dengan adanya verba perintah (fi’il amar) صَلِّي “ṣallī “ ‘pimpinlah shalat’ sebagai predikatnya. Adapun kata عُمَر “‘umar” ‘Umar’ berfungsi sebagai subjek kalimat. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa maksud tuturan pada tuturan (3) sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Dengan demikian, tuturan pada tuturan (3) merupakan termasuk ke dalam tindak tutur literal.

Tuturan (4) merupakan tuturan Wahsyi kepada Raihanah. Tuturan tersebut ditujukan kepada Raihanah untuk melarang Raihanah memakai perhiasan yang telah diberikan Hindun kepada Wahsyi. Adapun bentuk kalimat yang digunakan adalah kalimat interogatif. Hal ini ditandai dengan adanya kata tanya مَنْ “man” ‘siapa’ pada awal kalimat. Kemudian apabila kita melihat makna kalimat “Man ażina laki?” ‘Siapa yang mengizinkanmu?’, dapat diketahui bahwa makna kalimat tersebut menunjukkan sebuah pertanyaan yang menanyakan tentang orang yang telah memberi izin kepada yang diberi pertanyaan tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Wahsyi pada tuturan (4) tidak bermaksud untuk menanyakan siapa orang yang mengizinkan memakai perhiasan kepada Raihanah, tetapi Wahsyi bermaksud untuk melarang Raihanah memakai perhiasan miliknya. Dengan demikian, tuturan (4) termasuk ke dalam tuturan tidak literal karena makna kata-kata yang menyusunnya tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan.

  1. Fungsi Tindak Tutur Direktif Bahasa Arab dalam Film ‘Umar

Berdasarkan data-data yang diperoleh, tindak tutur direktif Bahasa Arab dalam film ‘Umar memiliki sembilan fungsi, yakni: memerintah, melarang, meminta, menasihati, mengajak, mengharapkan, memperingatkan, menantang, dan mempersilakan. Fungsi-fungsi tindak tutur direktif tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah berikut.

No Fungsi  Tindak Tutur Direktif Bahasa Arab dalam Film ‘Umar
(1) Memerintah إذْهَبُوا فَأنْتُمْ آمِنُوْنَ فِي الْأرْضِي.

Iżhabū                  fa       antum āminūna  fī l-arḍī

Kalian semua bisa pergi! Sekarang kalian aman di negeri saya.

(Episode 9/18:07/Raja Najasyi)

Konteks: tuturan Raja Najasyi kepada orang-orang muslim yang datang meminta izin tinggal di negerinya.

(2) Melarang لاتَبْرَحُوْا مَكَانَكُمْ! لاتَبْرَحُوْا مَكَانَكُمْ!

Lā tabraḥū                    makānakum!  Lā tabraḥū                   makānakum!

Jangan beranjak dari tempat kalian! Jangan beranjak dari tempat kalian!

)Episode 13/11:28/seorang prajurit muslim(

Konteks: tuturan seorang prajurit muslim ketika perang Uhud yang meminta rekan-rekannya yang termasuk ke dalam regu pemanah agar jangan meninggalkan tempatnya.

(3) Meminta وَ إِنَّي أسْألُكَ مِثْلَ الَّذِي سَأَلَ خالِد تَدْعُ لَنَا.

Wa innī                           as’aluka              miṡla

l-lażī saala      khālid  tad’u    lanā.

Aku berdoa dengan doa yang diucapkan Khalid. Doakan kami, wahai Rasulullah. )Episode16/08:27/Amr bin Ash(

Konteks:tuturan Amr bin Ash kepada Nabi Muhammad. Ketika itu Amr bin Ash baru saja menyatakan masuk Islam setelah Khalid bin Walid  terlebih dahulu menyatakan masuk Islam.

(4) Menasihati إصْبِرْ يا أبا بكر حَتَّى تَسْكُنَ الناس و تَحَبَ الرُّجُل ثُمَّ نَخْرُجُ بِك!

Iṣbir               yā        abā  bakrin  ḥattā  taskunu n-nāsa    wa   taḥabba  r –rajul ṡumma       naḥruju      bik!

Bersabarlah, Abu Bakar. Sampai keadaan tenang dan gerakan rakyat sudah mulai tenang. Kemudian kita ke sana.

(Episode 7/11:03/ Ummu Jameel binti Khattab)

Konteks: tuturan  Ummu Jameel binti Khattab kepada Abu Bakar agar menahan diri untuk tidak bertemu dengan Nabi Muhammad. Ketika itu, kaum Kuraisy sedang keras-kerasnya dalam melakukan perlawanan terhadap Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

(5) Mengajak حَيّ قَصَّهَا إلَى رَسُولِ اللهِ فَإنكَ مُعَيِّدٌ يَا عُمَر.

ḥayyā   qaṣṣahā                ilā         rasūli l-lāhi  fainnaka                                 mu’ayyidun  yā      ‘umar.

Marilah kita memberitahukan hal ini kepada Rasul, karena engkau menguatkan perkara ini. )Episode 11/06:12/Abu Bakar(

Konteks: tuturan Abu Bakar kepada Umar yang mengajaknya agar menemui Nabi Muhammad. Ketika itu, Umar bin Khattab menceritakan bahwa ia bermimpi diajarkan lafadz adzan.

(6) Mengharapkan عَسَى اللهُ اَنْ يَجْمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ وَ اَنْ يَرْزَقَكُمَا ذُرِّيَّةً صَالِحَة.

‘asāllāhu         yajma’a        bainakumā  fī        khairin    wa   an        yarzakumā żurriyyatan ṣāliḥah.

Semoga Allah menyatukan kalian dalam kebaikan dan memberi karunia kalian keturunan yang sholeh. )Episode 26/08:09/Umar bin Khattab(

Konteks:tuturan Umar bin Khattab kepada Ashim dan calon istrinya ketika mereka akan menikah.

(7) Memperingatkan وَيْحَاكَ يَا أبَاصُفْيَان! وَ اللهِ لَقَدْ عَزَمَ رَسُول اللهِ عَلَى أمْرٍ لَا نَسْتَطِيْعُ أنْ نُكَلِّمَهُ فِيْه.

Waiḥāk              yā       abā ṣufyān!  Wallāhi        laqad     ‘ajama  rasūlullāhi ‘ala amrin    lā       nastaṭī’u  an      nukallimahu                         fīh.

Celaka engkau, Abu Sufyan! Kalau Rasulullah telah menetapkan sesuatu maka tidak ada yang bisa mengubahnya.

(Episode 16/18:17/Ali bin Abu Thalib)

(8) Menantang انَا ابْنُ الوَلِيد الْحَوْد اطْلُبُ الْمُبَارَزَةْ.

 

Anābnu l-walīdi  l-ḥaud   uṭlubu l-mubārazah!

Aku anak Walid, menginginkan duel denganmu. (Episode 20/28:16/Khalid bin Walid)

Konteks: tuturan Khalid bin Walid kepada pasukan Musailamah. Ketika itu pasukan muslim dengan pasukan Musailamah telah berhadap-hadapan akan memulai peperangan pada Perang Yamamah.

 

(9) Mempersilakan اُدْخُلْ يَا اَمِيْرَ الْمُئْمِنِيْن.

Udkhul     yā          amīra l-mu`minīn.

Silakan masuk, Amirul Mukminin.

(Episode 29/40:49/Ali bin Abu Thalib)

Konteks:tuturan Ali bin Abi Thalib kepada Umar bin Khattab. Ketika itu, Ali bin Abu Thalib mempersilakan Umar bin Khattab untuk masuk ke dalam rumahnya.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar memiliki berbagai jenis. Jenis-jenis tindak tutur direktif tersebut yaitu: tindak tutur langsung dengan bentuk kalimat imperatif, tindak tutur tidak langsung dengan bentuk kalimat deklaratif dan kalimat interogatif yang ditandai oleh kata tanya, tindak tutur literal, dan tindak tutur tidak literal.
  2. Tindak tutur direktif bahasa Arab dalam film ‘Umar memiliki berbagai fungsi. Fungsi-fungsi tersebut yaitu untuk memerintah, melarang, meminta, menasihati, mengajak, mengharapkan, memperingatkan, menantang, dan mempersilakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Levinson, Stephen. 1983. Pragmatics. London. Cambridge, Massachusetts: Blacwell Publishers.

Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Searle, J.R. 1979. Expression and Meaning Studies in the Theory of Speech Act. Cambridge: Cambridge University Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana Press.

Wijana, I Dewa. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Wijana, I Dewa. 2010. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wijana, I Dewa & Rohmadi, Muhammad. 2012. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Penerjemah Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Be the First to comment. Read More
Informasi

Download Jurnal Humaniora

Jurnal Humaniora adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Dalam jurnal ini dibahas mengenai budaya, sejarah, bahasa, dan sastra. Jurnal ini bisa didownload secara gratis. Untuk mendownload Jurnal Humaniora tersebut, klik tautan di bawah berikut.

Jurnal Humaniora FIB UGM

jurnal-humaniora-1  jurnal-humaniora-3jurnal-humaniora-2

Be the First to comment. Read More
Pragmatik

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PIDATO PEMBUKAAN KONGRES KE-4 PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian mengenai tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Indonesia Perjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan tersebut.

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, (3) tahap penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak dan mencatat tuturan-tuturan yang mengandung tindak tutur ilokusi pada pidato pembukaan kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan tersebut.. Pada tahap analisis data digunakan pendekatan pragmatik dengan metode kontekstual. Kemudian penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode informal.

Hasil penelitian ini menunjukkan jenis tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan memiliki empat jenis tindak tutur ilokusi. (1) tindak tutur representatif yang berfungsi untuk menjelaskan, mengemukakan pendapat, dan menginformasikan. (2) Tindak tutur direktif yang berfungsi untuk mengajak, melarang, memerintah, mengharapkan, meminta, memperingatkan, dan menyarankan. (3) Tindak tutur ekspresif yang berfungsi untuk memuji dan berterima kasih. (3) (4) Tindak tutur deklarasi yang berfungsi untuk membuka kongres.

Kata Kunci: Tindak Tutur Ilokusi, Tindak Tutur, Pragmatik.

 

PENDAHULUAN

Dalam mengucapkan sebuah tuturan, seseorang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan tersebut. Dalam pragmatik tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan disebut dengan istilah tindak tutur. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini akan dipaparkan mengenai tindak tutur ilokusi yang merupakan bagian sentral dalam kajian tindak tutur. Adapun tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur untuk melakukan sesuatu. Tuturan-tuturan yang termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi memiliki beberapa fungsi sesuai dengan keinginan dari penuturnya. Tindak tutur tersebut ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan (Yule, 2006).

Dalam hal ini, tuturan-tuturan yang akan diteliti yaitu tuturan-tuturan dalam Pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Adapun yang menyampaikan pidato dalam Kongres PDI Perjuangan tersebut adalah Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sebagai sebuah pidato politik, tuturan-tuturan dalam pidato tersebut memiliki daya ilokusi yang hendak disampaikan penutur kepada peserta yang hadir pada kongres tersebut maupun pendengar yang menyaksikan tayangan di televisi. Berkenaan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusinya.

TEORI & METODOLOGI

Pragmatik merupakan studi yang mempelajari tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (Yule, 2006). Sebagai akibatnya studi pragmatik lebih berhubungan mengenai maksud dari tuturan-tuturan yang disampaikan oleh seseorang daripada makna leksikal suatu kata atau frase dari tuturan-tuturan tersebut. Selain itu, menurut Wijana (1996) pragmatik adalah cabang linguistik atau ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi. Struktur bahasa yang dikaji oleh pragmatik selalu dikaitkan dengan konteks ketika tuturan tersebut dituturkan.

Dalam pragmatik, terdapat pembahasan mengenai tindak tutur. Tindak tutur merupakan kajian pragmatik dalam kaitannya dengan tuturan yang disampaikan oleh penutur berdasarkan konteks tertentu. Tindak tutur (speech act) dapat dikatakan sebagai bentuk tindakan yang dilakukan oleh penutur dalam menggunakan bahasanya (Wijana, 2010). Tindak tutur dibagi ke dalam tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur dalam berbahasa, yaitu tindakan untuk mengatakan (locutionary act), tindakan untuk melakukan sesuatu (illocutionary act), dan tindakan yang mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act) (Wijana, 1996). Berdasarkan teori tindak tutur, tindakan ilokusioner merupakan sentral kajian tindak tutur. Searle (1979) mengelompokkan jenis tindak tutur ilokusioner ke dalam lima jenis tindak tutur, yaitu: representatif/asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang menyatakan keyakinan penutur benar atau tidak, seperti pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Kemudian tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan agar lawan tutur melakukan sesuatu yang dituturkan oleh penutur. Adapun tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Lalu tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang menghasilkan perubahan dalam waktu yang singkat hanya melalui tuturan.

Kajian tindak tutur ilokusi dalam pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 2001). Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Data berupa tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam sumber data disimak dan dicatat ke dalam kartu data. Data yang telah dikumpulkan kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam pidato tersebut. Hasil klasifikasi data tersebut kemudian dianalisis dengan metode kontekstual, yaitu menganalisis data dengan menghubungkannya pada konteks yang ada (Rahardi, 2005). Hasil analisis data disajikan secara verbal yaitu deskripsi menggunakan kata-kata biasa.

TEMUAN & PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis yang dilakukan, tindak tutur ilokusi pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan ini dibagi kepada empat jenis, yaitu: (1) tindak tutur representatif (2) tindak tutur direktif, (3) tindak tutur ekspresif, dan (4) tindak tutur deklarasi. Berikut uraian keempat jenis tindak tutur ilokusi  tersebut.

TINDAK TUTUR REPRESENTATIF

No. Tindak Tutur Representatif Fungsi
(1) Kepentingan yang menjadi “penumpang gelap” untuk menguasai sumber daya alam bangsa. Menjelaskan
(2) PDI Perjuangan dengan tegas menolak berbagai bentuk radikalisme dan terorisme atas nama apapun. Mengemukakan Pendapat
(3) Undang-undang Nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, mengamanatkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Menginformasikan

Pada Tuturan (1), penutur bermaksud untuk menjelaskan arti dari tuturan sebelumnya, yaitu mengenai kepentingan yang terdapat dalam suatu tim kampanye. Tuturan (1) tersebut berfungsi untuk menjelaskan mengenai maksud dari kata ‘kepentingan’ tersebut. Adapun tuturan (2) merupakan tuturan yang ditujukan untuk permasalahan ISIS yang berkembang di Indonesia. Tuturan (2) tersebut berfungsi untuk mengemukakan pendapat penutur sebagai Ketua PDI Perjuangan yang menyatakan menolak gerakan ISIS dan sejenisnya berkembang di Indonesia. Kemudian tuturan (3) merupakan tuturan mengenai pencalonan Presiden dan Wakil Presiden. Tuturan (3) tersebut berfungsi untuk menginformasikan kepada pendengar bahwa dalam Undang-undang pencalonan Nomor 42 tahun 2008, Presiden dan Wakil Presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Ketiga tuturan di atas tersebut termasuk ke dalam tindak tutur representatif karena tuturan-tuturan tersebut mencerminkan keyakinan mengenai benar atau tidaknya suatu masalah.

TINDAK TUTUR DIREKTIF

No. Tindak Tutur Direktif Fungsi
(1) Saya mengajak seluruh simpatisan, anggota dan kader partai untuk tetap teguh pada jalan ideologi partai. Mengajak
(2) Kita tidak boleh merasa minder dengan segala negara adidaya sekalipun. Melarang
(3) Perkuatlah tradisi gotong royong. Memerintah
(4) Semoga Allah SWT selalu menemani dan menjaga gerak langkah perjuangan kita bersama. Mengharapkan
(5) Atas dasar konstitusi pula, saya berulang kali menyampaikan kepada Bapak Presiden, pegang teguhlah konstitusi itu! Berpijaklah pada konstitusi karena itu adalah sebuah jalan lurus kenegaraan! Penuhilah janji kampanyenya, sebab itulah ikatan suci dengan rakyat! Meminta

 

(6) Waspadalah! Guna mencegah hal tersebut, saya menyerukan agar Indonesia harus benar-benar tangguh di dalam melakukan negosiasi kontrak migas dan tambang, yang sebentar lagi banyak yang akan berakhir. Memperingatkan
(7) Tanpa bermaksud meremehkan gerakan terorisme yang lain, saya melihat bahwa sekarang ini masalah ISIS sangat serius dan perlu segera disikapi. Menyarankan

Tuturan (1) disampaikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan yang ditujukan kepada anggota dan kader partai. Tuturan (1) tersebut merupakan tuturan yang bermaksud untuk mengajak pendengar untuk tetap teguh pada jalan ideologi Partai. Pada tuturan (2), penutur bermaksud untuk melarang pendengar untuk tidak minder kepada negara adidaya. Dalam hal ini, kata “tidak” merupakan penanda dari tuturan direktif yang berfungsi untuk melarang tersebut. Adapun tuturan (3) ditujukan kepada anggota, kader, dan simpatisan partai. Dalam tuturan (3) tersebut, penutur bermaksud untuk memerintah kepada pendengar untuk memperkuat tradisi gotong royong. Kemudian tuturan (4) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Allah SWT. Tuturan tersebut berfungsi untuk mengharapkan. Dalam hal ini, penutur mengharapkan agar Allah SWT menjaga gerak langkah perjuangannya. Dalam tuturan (5) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Bapak Presiden Jokowi. Tuturan tersebut berfungsi untuk meminta agar Presiden Jokowi memegang konstitusi dan memenuhi janji kampanyenya. Lalu tuturan (6) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia. Tuturan (6) tersebut berfungsi untuk memperingatkan agar pemerintah tangguh dalam melakukan negosiasi kontrak migas dan tambang. Adapun tuturan (7) merupakan tuturan yang ditujukan kepada pemerintah. Tuturan (7) tersebut berfungsi untuk menyarankan pemerintah agar menyikapi masalah perkembangan ISIS di Indonesia dengan lebih serius. Dalam hal ini, ketujuh tuturan di atas merupakan termasuk ke dalam tindak tutur direktif karena tuturan-tuturan tersebut mempengaruhi lawan bicara untuk melakukan sesuatu.

TINDAK TUTUR EKSPRESIF

No. Tindak Tutur Ekspresif Fungsi
(1) Alhamdullilah, saya diberi oleh Allah SWT tetap bertahan dan lolos dari berbagai cobaan. Memuji
(2) Terima kasih. Wasalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berterima kasih

Tuturan (1) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Allah SWT. Tuturan (1) tersebut berfungsi untuk memuji Allah SWT yang telah membuat penutur tetap bertahan dan lolos dari berbagai cobaan. Tuturan (2) merupakan tuturan yang ditujukan kepada pendengar dalam acara Kongres PDI Perjuangan. Dalam tuturan (2) tersebut penutur bermaksud untuk mengucapkan terima kasih kepada peserta yang hadir dalam acara kongres tersebut. Dalam hal ini, kedua tuturan di atas merupakan termasuk ke dalam tindak tutur ekspresif karena tuturan-tuturan tersebut merupakan ungkapan perasaan penutur terhadap suatu keadaan.

TINDAK TUTUR DEKLARASI

No. Tindak Tutur Deklarasi Fungsi
(1) Akhirnya dengan penuh rasa syukur dan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Kongres ke-4 PDI Perjuangan dengan resmi saya nyatakan dibuka. Membuka Kongres

Tuturan (1) di atas merupakan tuturan yang ditujukan kepada semua yang hadir dalam acara Kongres ke-4 PDI Perjuangan tersebut. Dalam hal ini, penutur sebagai Ketua PDI Perjuangan melalui tuturan (1) tersebut bermaksud untuk membuka acara Kongres ke-4 tersebut. Dalam hal ini, tuturan (1) di atas termasuk ke dalam tindak tutur deklarasi karena penutur sebagai ketua PDI Perjuangan melalui tuturan (1) memiliki kewenangan untuk membuka acara Kongres ke-4 PDI Perjuangan tersebut.

KESIMPULAN & SARAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan dibagi ke dalam empat jenis, yakni tindak tutur representatif yang memiliki fungsi untuk menjelaskan, mengemukakan pendapat, dan menginformasikan. Tindak tutur direktif yang memiliki fungsi untuk mengajak, melarang, memerintah, mengharapkan, meminta, memperingatkan, dan menyarankan. Tindak tutur ekspresif yang memiliki fungsi untuk memuji dan berterima kasih. Tindak tutur deklarasi yang memiliki fungsi untuk membuka kongres.

Kajian mengenai tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan ini hanyalah sebagian kecil dari kajian pragmatik. Kajian lebih lanjut secara luas dan mendalam pada pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan ini dapat juga dikaji oleh kajian pragmatik mengenai kesopanan berbahasa, deiksis, ataupun topik dalam bidang pragmatik lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Searle, J.R. 1979. Expression and Meaning Studies in the Theory of Speech Act. Cambridge: Cambridge University Press.

Sudaryanto. 2001. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguisis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Wijana, I Dewa. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Wijana, I Dewa. 2010. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Penerjemah Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Be the First to comment. Read More