Pasar dan Perempuan di Minangkabau

Oleh

Selfi Mahat Putri, M.A. 

Slogan “Carrefour, untuk hidup yang lebih baik atau Super Indo, lebih segar lebih hemat lebih dekat” sudah tak asing lagi bagi kaum ibu rumah tangga terutama yang berada di perkotaan karena merupakan pusat perbelanjaan yang cukup ternama. Hampir tiap pekan atau bahkan tiap hari, kita bisa melihat-ibu-ibu berbelanja untuk kebutuhan sehari-sehari maupun bulanan. Mulai dari sayur-sayuran, lauk pauk, beras bahkan pakaian atau barang elektronik tersedia.

 Barang-barang yang sudah ditata dengan rapi terletak pada tempat-tempatnya, bagian sayur-sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu, peralatan masak dan lain sebagainya berada pada tempat yang sudah tersedia dengan label harga yang sudah tertera pada tiap-tiap barang. Dibantu  dengan keranjang atau troly dorong yang tersedia maka kita bisa mengambil barang yang ingin dibeli dan terakhir ke kasir untuk menghitung semua barang belanjaan dan tinggal bayar.

Inilah sebuah bentuk modernisasi dari sebuah pasar, dimana menjawab keinginan masyarakat yang menginginkan sebuah pasar yang bersih,nyaman,teratur dan aman. Kita bisa lihat sendiri saat ini, mulai berjamurnya supermarket-supermarket baik yang skala kecil maupun besar, dan tak hanya di kota-kota besar tetapi mulai merambah ke daerah-daerah. Hingga akhirnya, pasar tradisional yang masih bertahan sampai saat ini mulai tertatih-tatih untuk menjaga eksistensinya agar tidak tenggelam ditelan zaman.

Kita perlu mengintip ke belakang, melihat  kondisi pasar dan perempuan (ibu rumah tangga) yang selalu bergantung dengan pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagaimana sejarahnya di daerah minangkabau yang notabane-nya dikenal sebagai masyarakat pedagang.

Pasar dan Urang Minang

Berbicara mengenai pasar dan urang Minang bagaikan “ burung jalak di punggung kerbau” yang merupakan sebuah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Bagaimana pasar menjadi bagian dari jiwa urang minang yaitu berdagang sehingga keberadaan urang Minang ini turut andil meramaikan pusat perekonomian di pasar-pasar yang berada hampir di seluruh kepulauan di nusantara.

Pasar erat kaitannya dengan perkembangan sebuah daerah yang semula berupa daerah kecil menjadi sebuah daerah yang berkembang pesat atau dari sebuah desa berkembang menjadi sebuah kota. Saat kita membicarakan atau membahas mengenai perkembangan ini, kita tidak dapat melepaskannya dari peranan pasar tradisional, baik itu yang pada awalnya hanya dibentuk oleh masyarakat pribumi sekitar sebelum masuknya bangsa Belanda hingga peran bangsa Belanda sendiri dalam mengembangkan pasar dengan memanfaatkan hasil bumi yang ada di daerah jajahannya.

Sumatera Barat atau pada masa pemerintahan Hindia Belanda terkenal dengan sebutan Sumatera Westkust (biasa juga disebut dengan Minangkabau), merupakan salah satu daerah yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk menancapkan kuku pemerintahan kolonialnya khususnya dalam bidang perdagangan hasil bumi. Daerah ini terkenal dengan hasil-hasil pertanian komoditi ekspornya, seperti kopi, tembakau, cengkeh, lada, gambir dan lain sebagainya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan perkembangan pada pasar atau yang disebut juga pakan di Minangkabau menjadi besar, bahkan hingga menjadi sebuah kota pada masa pemerintahan Belanda. Oleh karena itu, bagaimana membaca foto-foto mengenai perkembangan sebuah pasar di Minangkabau pada masa kolonial.

Pasar di Ranah Minang

Pasar dikenal juga oleh orang Minangkabau dengan sebutan pakan, pada umumnya setiap nagari memiliki pakan sendiri karena pakan merupakan salah satu syarat berdirinya suatu nagari. Pakan biasanya didirikan di lapangan dekat balairung  nagari. Nama suatu pakan dapat mengacu pada nama hari atau nagari dan waktu atau tempat penyelenggaraan pakan itu. Misalnya Pakan Kamih (pasar kamis), Pakan Sinayan (pasar senin), dan juga Pakan Kurai (pasar kurai), Pakan Baso (pasar baso). Pakan hanya satu kali dalam seminggu, hal ini dilakukan agar pasar bisa dilakukan bergiliran dengan daerah-daerah lain.

Pada tahun-tahun ini pasar sudah diatur menurut kategori barang-barang yang dijual : disatu bagian, bahan pokok seperti ikan kering, beras, buah, sayur, garam dll. Bahan pangan di tempat lain : kain, baik katun maupun sutera, bagian lain lagi : makanan seperti jajanan dari beras ketan, gula enau, keperluan makan sirih  seperti daun sirih, tembakau, pinang, kue yang terbuat dari gambir dan kapur, berikat-ikat daun pohon kopi untuk direbus sebagai minuman kopi di Minangkabau, dibagian lain lagi ada barang-barang keperluan rumah tangga seperti kuali, tikar rotan, kotak-kotak, damar untuk penerangan dll, ditempat lain lagi ada barang-barang kerajinan besi seperti cangkul, sekop, sodok dan senapan, debu emas juga di jual  dan dipasar yang besar juga ada penjualan ternak.

picture1

Foto yang berukuran 14 x 23,5 cm ini adalah sebuah foto aktivitas di pasar Payakumbuh pada tahun 1911 yang merupakan koleksi dari A.N.W.B . Toeristenbond voor Nederland yang diambil dari www. kitlv.nl.  Pasar yang diadakan di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh pohon-pohon beringin ini memiliki bangunan fisik pasar yang masih sangat sederhana yakni berupa warung-warung yang tonggaknya terbuat dari bambu atau kayu dan beratap daun rumbia atau daun ilalang. Sedangkan sebagian pedagang lainnya yang tak memiliki warung mereka menggelar dagangannya di atas tanah dengan beralaskan katidiang (bakul), daun pisang dan bahkan tak beralaskan sama sekali. Beberapa pedagang sudah menggunakan karung-karung goni untuk membawa barang dagangannya dan sebagian yang lain masih menggunakan katidiang (bakul) yang berisi hasil bumi dari daerah Payakumbuh dan daerah sekitarnya.

Terlihat jelas, bagaimana ramainya pasar di Payakumbuh pada tahun ini, tua-muda, laki-laki dan perempuan bahkan anak-anak ada disini. Para perempuan dengan pakaian khas baju kuruang dengan penutup kepala atau disebut juga tingkuluak dan beberapa kaum laki-laki dengan sarung dan kopiahnya. Inilah pakaian khas orang minang yang sekarang sudah jarang digunakan. Beberapa kompeni dengan pakaian putihnya terlihat sedang melakukan kontrol atau pengawasan.

Pasar tidak hanya menjadi tempat mendapatkan keuntungan dari jual beli saja, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan bertemunya suatu masyarakat dalam sebuah nagari. Pedagang-pedagang ini tidak hanya berasal dari nagari yang sedang mengadakan hari pakan nya saja tetapi mereka juga datang dari berbagai nagari-nagari yang berada di Minangkabau.

picture2

Dari sumber yang sama, foto yang berukuran 18 x 28 cm ini memperlihatkan sisi dari salah satu kondisi pasar yaitu warung atau lapau dengan atap rumbia dan kain putih di tiap-tiap sisinya sebagai penutup. Lapau ini biasanya ditinggalkan oleh pedagang selama seminggu sampai datang lagi hari pakannya. Lapau yang sangat sederhana ini merupakan tempat berkumpul, dalam bahasa gaulnya tempat “nongkrong” laki-laki minang, mulai dari remaja sampai orang tua. Tempat yang biasanya menjadi tempat ngopi sambil menyantap makanan kecil ini menjadi  wadah berbagi cerita bagi masyarakat minang. Disinilah tempat berbagi informasi dari berbagai orang,  mengenai apa saja, semuanya diperbincangkan.

 Perempuan di Pakan

picture3

Tak berbeda jauh dari foto diatas (pertama), foto yang diambil dari sumber buku “Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang” yang di dapat dari arsip di Belanda juga tampak pedagang perempuan dengan pakaian baju kuruang dan tingkuluak serta katidiak sebagai tempat  barang dagangannya yang ditutupi oleh kain.

Biasanya perempuan yang berdagang di pakan ini menjual hasil kerajinan tangan yang mereka buat sendiri dirumah. Usaha rumah tangga ini  dilakukan dalam jumlah kecil,  dengan modal kecil sehingga keuntungan yang di dapatpun juga kecil. Seperti tenunan, kain katun lokal, sarung biru dan merah dengan kotak-kotak seperti kain bugis. Selain itu, Perempuan-perempuan ini juga membawa beras dalam kantung-kantung kecil, buah-buahan, daun kopi, dan jajanan yang mereka buat sendiri.

Inilah fenomena sejarah yang bisa kita lihat mengenai perempuan di Minangkabau dalam bidang ekonomi pada tahun 1911. Mereka tak hanya sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya memasak di dapur saja, tetapi ikut andil terlibat dalam pemenuhan kebutuhan itu. Mereka datang ke pasar menjual barang-barang apa saja yang bisa di jual, pasar begitu penting bagi mereka.

Sumber :

  1. kiltv.nl “De Pasar te Pajo Koemboeh. Sumatra”.
  2. kitlv.nl “Een warong op de Pasar te Pajo Koemboeh. Sumatra”.
  3. Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang, (Jakarta : Sinar Harapan, 1985), hlm 142.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *