Pragmatik

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PIDATO PEMBUKAAN KONGRES KE-4 PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian mengenai tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Indonesia Perjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan tersebut.

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, (3) tahap penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak dan mencatat tuturan-tuturan yang mengandung tindak tutur ilokusi pada pidato pembukaan kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan tersebut.. Pada tahap analisis data digunakan pendekatan pragmatik dengan metode kontekstual. Kemudian penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode informal.

Hasil penelitian ini menunjukkan jenis tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan memiliki empat jenis tindak tutur ilokusi. (1) tindak tutur representatif yang berfungsi untuk menjelaskan, mengemukakan pendapat, dan menginformasikan. (2) Tindak tutur direktif yang berfungsi untuk mengajak, melarang, memerintah, mengharapkan, meminta, memperingatkan, dan menyarankan. (3) Tindak tutur ekspresif yang berfungsi untuk memuji dan berterima kasih. (3) (4) Tindak tutur deklarasi yang berfungsi untuk membuka kongres.

Kata Kunci: Tindak Tutur Ilokusi, Tindak Tutur, Pragmatik.

 

PENDAHULUAN

Dalam mengucapkan sebuah tuturan, seseorang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan tersebut. Dalam pragmatik tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan disebut dengan istilah tindak tutur. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini akan dipaparkan mengenai tindak tutur ilokusi yang merupakan bagian sentral dalam kajian tindak tutur. Adapun tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur untuk melakukan sesuatu. Tuturan-tuturan yang termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi memiliki beberapa fungsi sesuai dengan keinginan dari penuturnya. Tindak tutur tersebut ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan (Yule, 2006).

Dalam hal ini, tuturan-tuturan yang akan diteliti yaitu tuturan-tuturan dalam Pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Adapun yang menyampaikan pidato dalam Kongres PDI Perjuangan tersebut adalah Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sebagai sebuah pidato politik, tuturan-tuturan dalam pidato tersebut memiliki daya ilokusi yang hendak disampaikan penutur kepada peserta yang hadir pada kongres tersebut maupun pendengar yang menyaksikan tayangan di televisi. Berkenaan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusinya.

TEORI & METODOLOGI

Pragmatik merupakan studi yang mempelajari tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (Yule, 2006). Sebagai akibatnya studi pragmatik lebih berhubungan mengenai maksud dari tuturan-tuturan yang disampaikan oleh seseorang daripada makna leksikal suatu kata atau frase dari tuturan-tuturan tersebut. Selain itu, menurut Wijana (1996) pragmatik adalah cabang linguistik atau ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi. Struktur bahasa yang dikaji oleh pragmatik selalu dikaitkan dengan konteks ketika tuturan tersebut dituturkan.

Dalam pragmatik, terdapat pembahasan mengenai tindak tutur. Tindak tutur merupakan kajian pragmatik dalam kaitannya dengan tuturan yang disampaikan oleh penutur berdasarkan konteks tertentu. Tindak tutur (speech act) dapat dikatakan sebagai bentuk tindakan yang dilakukan oleh penutur dalam menggunakan bahasanya (Wijana, 2010). Tindak tutur dibagi ke dalam tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur dalam berbahasa, yaitu tindakan untuk mengatakan (locutionary act), tindakan untuk melakukan sesuatu (illocutionary act), dan tindakan yang mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act) (Wijana, 1996). Berdasarkan teori tindak tutur, tindakan ilokusioner merupakan sentral kajian tindak tutur. Searle (1979) mengelompokkan jenis tindak tutur ilokusioner ke dalam lima jenis tindak tutur, yaitu: representatif/asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang menyatakan keyakinan penutur benar atau tidak, seperti pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Kemudian tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan agar lawan tutur melakukan sesuatu yang dituturkan oleh penutur. Adapun tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Lalu tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang menghasilkan perubahan dalam waktu yang singkat hanya melalui tuturan.

Kajian tindak tutur ilokusi dalam pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 2001). Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Data berupa tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam sumber data disimak dan dicatat ke dalam kartu data. Data yang telah dikumpulkan kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam pidato tersebut. Hasil klasifikasi data tersebut kemudian dianalisis dengan metode kontekstual, yaitu menganalisis data dengan menghubungkannya pada konteks yang ada (Rahardi, 2005). Hasil analisis data disajikan secara verbal yaitu deskripsi menggunakan kata-kata biasa.

TEMUAN & PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis yang dilakukan, tindak tutur ilokusi pidato Pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Perjuangan ini dibagi kepada empat jenis, yaitu: (1) tindak tutur representatif (2) tindak tutur direktif, (3) tindak tutur ekspresif, dan (4) tindak tutur deklarasi. Berikut uraian keempat jenis tindak tutur ilokusi  tersebut.

TINDAK TUTUR REPRESENTATIF

No. Tindak Tutur Representatif Fungsi
(1) Kepentingan yang menjadi “penumpang gelap” untuk menguasai sumber daya alam bangsa. Menjelaskan
(2) PDI Perjuangan dengan tegas menolak berbagai bentuk radikalisme dan terorisme atas nama apapun. Mengemukakan Pendapat
(3) Undang-undang Nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, mengamanatkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Menginformasikan

Pada Tuturan (1), penutur bermaksud untuk menjelaskan arti dari tuturan sebelumnya, yaitu mengenai kepentingan yang terdapat dalam suatu tim kampanye. Tuturan (1) tersebut berfungsi untuk menjelaskan mengenai maksud dari kata ‘kepentingan’ tersebut. Adapun tuturan (2) merupakan tuturan yang ditujukan untuk permasalahan ISIS yang berkembang di Indonesia. Tuturan (2) tersebut berfungsi untuk mengemukakan pendapat penutur sebagai Ketua PDI Perjuangan yang menyatakan menolak gerakan ISIS dan sejenisnya berkembang di Indonesia. Kemudian tuturan (3) merupakan tuturan mengenai pencalonan Presiden dan Wakil Presiden. Tuturan (3) tersebut berfungsi untuk menginformasikan kepada pendengar bahwa dalam Undang-undang pencalonan Nomor 42 tahun 2008, Presiden dan Wakil Presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Ketiga tuturan di atas tersebut termasuk ke dalam tindak tutur representatif karena tuturan-tuturan tersebut mencerminkan keyakinan mengenai benar atau tidaknya suatu masalah.

TINDAK TUTUR DIREKTIF

No. Tindak Tutur Direktif Fungsi
(1) Saya mengajak seluruh simpatisan, anggota dan kader partai untuk tetap teguh pada jalan ideologi partai. Mengajak
(2) Kita tidak boleh merasa minder dengan segala negara adidaya sekalipun. Melarang
(3) Perkuatlah tradisi gotong royong. Memerintah
(4) Semoga Allah SWT selalu menemani dan menjaga gerak langkah perjuangan kita bersama. Mengharapkan
(5) Atas dasar konstitusi pula, saya berulang kali menyampaikan kepada Bapak Presiden, pegang teguhlah konstitusi itu! Berpijaklah pada konstitusi karena itu adalah sebuah jalan lurus kenegaraan! Penuhilah janji kampanyenya, sebab itulah ikatan suci dengan rakyat! Meminta

 

(6) Waspadalah! Guna mencegah hal tersebut, saya menyerukan agar Indonesia harus benar-benar tangguh di dalam melakukan negosiasi kontrak migas dan tambang, yang sebentar lagi banyak yang akan berakhir. Memperingatkan
(7) Tanpa bermaksud meremehkan gerakan terorisme yang lain, saya melihat bahwa sekarang ini masalah ISIS sangat serius dan perlu segera disikapi. Menyarankan

Tuturan (1) disampaikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan yang ditujukan kepada anggota dan kader partai. Tuturan (1) tersebut merupakan tuturan yang bermaksud untuk mengajak pendengar untuk tetap teguh pada jalan ideologi Partai. Pada tuturan (2), penutur bermaksud untuk melarang pendengar untuk tidak minder kepada negara adidaya. Dalam hal ini, kata “tidak” merupakan penanda dari tuturan direktif yang berfungsi untuk melarang tersebut. Adapun tuturan (3) ditujukan kepada anggota, kader, dan simpatisan partai. Dalam tuturan (3) tersebut, penutur bermaksud untuk memerintah kepada pendengar untuk memperkuat tradisi gotong royong. Kemudian tuturan (4) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Allah SWT. Tuturan tersebut berfungsi untuk mengharapkan. Dalam hal ini, penutur mengharapkan agar Allah SWT menjaga gerak langkah perjuangannya. Dalam tuturan (5) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Bapak Presiden Jokowi. Tuturan tersebut berfungsi untuk meminta agar Presiden Jokowi memegang konstitusi dan memenuhi janji kampanyenya. Lalu tuturan (6) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia. Tuturan (6) tersebut berfungsi untuk memperingatkan agar pemerintah tangguh dalam melakukan negosiasi kontrak migas dan tambang. Adapun tuturan (7) merupakan tuturan yang ditujukan kepada pemerintah. Tuturan (7) tersebut berfungsi untuk menyarankan pemerintah agar menyikapi masalah perkembangan ISIS di Indonesia dengan lebih serius. Dalam hal ini, ketujuh tuturan di atas merupakan termasuk ke dalam tindak tutur direktif karena tuturan-tuturan tersebut mempengaruhi lawan bicara untuk melakukan sesuatu.

TINDAK TUTUR EKSPRESIF

No. Tindak Tutur Ekspresif Fungsi
(1) Alhamdullilah, saya diberi oleh Allah SWT tetap bertahan dan lolos dari berbagai cobaan. Memuji
(2) Terima kasih. Wasalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berterima kasih

Tuturan (1) merupakan tuturan yang ditujukan kepada Allah SWT. Tuturan (1) tersebut berfungsi untuk memuji Allah SWT yang telah membuat penutur tetap bertahan dan lolos dari berbagai cobaan. Tuturan (2) merupakan tuturan yang ditujukan kepada pendengar dalam acara Kongres PDI Perjuangan. Dalam tuturan (2) tersebut penutur bermaksud untuk mengucapkan terima kasih kepada peserta yang hadir dalam acara kongres tersebut. Dalam hal ini, kedua tuturan di atas merupakan termasuk ke dalam tindak tutur ekspresif karena tuturan-tuturan tersebut merupakan ungkapan perasaan penutur terhadap suatu keadaan.

TINDAK TUTUR DEKLARASI

No. Tindak Tutur Deklarasi Fungsi
(1) Akhirnya dengan penuh rasa syukur dan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Kongres ke-4 PDI Perjuangan dengan resmi saya nyatakan dibuka. Membuka Kongres

Tuturan (1) di atas merupakan tuturan yang ditujukan kepada semua yang hadir dalam acara Kongres ke-4 PDI Perjuangan tersebut. Dalam hal ini, penutur sebagai Ketua PDI Perjuangan melalui tuturan (1) tersebut bermaksud untuk membuka acara Kongres ke-4 tersebut. Dalam hal ini, tuturan (1) di atas termasuk ke dalam tindak tutur deklarasi karena penutur sebagai ketua PDI Perjuangan melalui tuturan (1) memiliki kewenangan untuk membuka acara Kongres ke-4 PDI Perjuangan tersebut.

KESIMPULAN & SARAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan dibagi ke dalam empat jenis, yakni tindak tutur representatif yang memiliki fungsi untuk menjelaskan, mengemukakan pendapat, dan menginformasikan. Tindak tutur direktif yang memiliki fungsi untuk mengajak, melarang, memerintah, mengharapkan, meminta, memperingatkan, dan menyarankan. Tindak tutur ekspresif yang memiliki fungsi untuk memuji dan berterima kasih. Tindak tutur deklarasi yang memiliki fungsi untuk membuka kongres.

Kajian mengenai tindak tutur ilokusi dalam pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan ini hanyalah sebagian kecil dari kajian pragmatik. Kajian lebih lanjut secara luas dan mendalam pada pidato pembukaan Kongres ke-4 Partai Demokrasi Indonesia perjuangan ini dapat juga dikaji oleh kajian pragmatik mengenai kesopanan berbahasa, deiksis, ataupun topik dalam bidang pragmatik lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Searle, J.R. 1979. Expression and Meaning Studies in the Theory of Speech Act. Cambridge: Cambridge University Press.

Sudaryanto. 2001. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguisis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Wijana, I Dewa. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Wijana, I Dewa. 2010. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Penerjemah Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Be the First to comment.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *